Monday, 28 January 2019

PUTUS

Tak pandai ku berkata tak pandai pula ku menulis
Hanya tersimpan rapat di hati tanpa tahu cara untuk berekspresi
Sekali berekspresi hanya senyum yang terpancar
Senyum kepura - puraan, ini menyakitkan

Senyum ini hanya kamuflase dari jeritan hati
Oh saya menjerit dalam hati
Sakit, em Sakit Em sakit
Seakan hanya candaan karena ini sebuah kebiasaan

Candaan yang terlihat sempurna seperti kenyataan
Kenyataannya ini luka yang semakin membusuk
Semakin busuk dan busuk sampai baunya menusuk
Oh candaan ini juga jeritan hati

Tak pandai ku menulis
Sampai harus berfikir dan mencurahkan isi candaan
Oh Candaan yang semakin menjerit
Kuputuskan untuk menulis

Setelah menulis putus.......

Ah Akhir yang tragis dari candaan jeritan hati

IKLAS DAN SABAR

Semakin sesak,saya kira saya kuat namun salah ini menyakitkan untuk menahan.
Kukira teriak akan sedikit membantu namun semakin parah.
Kukira menghindar adalah pilihan namun itu hanya sementara dan kembali lagi.
Kuputuskan untuk meghadapinya namun saya tidak kuat.
Kukerjaka apa yang harus saya kerjakan apa yang jadi tanggungjawab, namun salah menurutnya
Bila tak ingin ada kesalahan setidaknya kasih saya satu kerjaan bukan bermacam kerjaan yang harus saya selesaikan.
Saya sadar hanya pekerja yang melaksanakan kewajiban untuk mendapatkan haknya.
Dulu saya kira akan baik - baik saja tanpa SOP pun namun ini berat dan semua seakan tertumpu di pundak yang lemah ini.
Apakah saya harus memberontak, saya kira saya tidak akan tega, 
Sebagian besar orang akan memberi solusi SABAR, saya sudah sabar dan ikhlas menurut saya namun iklas dan sabar ini seakan mulai meluntur dan harus berontak untuk sekian kalinya.

pikiran kalut