Saturday, 20 February 2016

Keluar dari zona nyaman

Zona nyaman yaitu zona dimana kamu merasa cukup dengan apa yang kamu miliki dan ini adalah sebuah kepastian dimana kamu akan menerima gaji setiap bulan bagi pekerja. Di era MEA ini apakah kita akan mempertahankan zona aman?Apakah kita berani keluar dari zona nyaman?.Pertanyaan yang sering hadir di dalam pikiran.
Zona nyaman di era MEA persaingan semakin ketat karena adanya pekerja dari luar negeri yang siap untuk unjuk kemampuan dalam bekerja.pertanyaannya apakah pengusaha akan mempertahankan kita bila ada pekerja dari luar negeri?.saya rasi tidak karena akhir tahun kemarin saja banyak PHK yang dilakukan oleh perusahaan dan baru kemarin dua perusahaan besar dari negeri sakura jepang hengkang dari Indonesia tercinta ini.Bagaimana nasib para karyawannya? ya bisa kalian fikirkan sendiri, dimana sebuah perusahaan tutup pastikaryawan ikutan tutup karier di perusahaan tersebut. 
So, ayo keluar dari zona nyaman, kitausaha sekecil apapun usaha kita itu kita adalah bosnya.
Apakah kita berani keluar dari zona nyaman? harus berani karena ini adalah paksaan yang harus kita jalani dengan sistem ekonomi yang sekarang bisa dibilang kita sekarang masuk dalam ekonomi kapitalis yang kaya semakin jaya yang miskin semakin tersingkir,Meskipun dalam kenyataannya kita menganut sisitem ekonomi koperasi. Mulai usaha dari yang paling terkecil alias tanpa modal dengan memasarkan produk orang lain terlebih dahulu, jualan jasa seperti jasa instal ulang komputer,selama kita punya kemampuan gunakannlah.
Tetap semangat hilangkan mindset kita tentang keluar zona nyaman akan hilang pendapatan, itu salah kita keluar dari zona nyaman justru pendapatan kita tidak terbatas yang biasanya kerja penuh tekanan dan paksaan kita dapat menentukan sendiri porsi kerjaan kita sehari - hari.

terima kasih bila ada kesalahn dengan pemikiran saya mohon untuk diberi masukan,

Wakhid Ahmad


Wednesday, 17 February 2016

Puisi untukmu Ayah

Ayah.....
Selalu ada do'a disetiap detak nadimu
Selalu terselip kasih disetiap tutur katamu
Tak terhingga kau memberi nasihat pada diriku

Ayah.....
Terakhir saya lihat senyummu
Menyiratkan sebuah kebanggan pada anakmu
Mengisyaratkan harapan yang besar pada anakmu

Ayah...
Tak peluh ku ucap terima kasih
Semua nasehatmu,marahamu, nampak jelas
Baru setelah 23 tahun,,

Ayah ...
Saya sadar betapa berartinya sebuah marah
Dulu yang tak pernah terfikir olehku
Menjadi mandiri karenamu

Ayah,.....
Mimpiku tak banyak cukup ingin melihatmu
Tersenyum bangga melihat anakmu



By :

Sarjana belum jadi

Monday, 8 February 2016

Senja di Pelabuhan Kecil Sri Ayati

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati
Karya : Chairil Anwar

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Biografi Chairil Anwar

Tokoh satu ini dikenal masyarakat Indonesia sebagai salah satu penyai terhebat yang pernah dimiliki Indonesia. Dia merupakan Penyair Angkatan '45. Karya-karyanya sudah banyak diterbitkan. Berikut Biografi dan Profil lengkap Chairil Anwar. Beliau dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapaknya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Selepas perceraian itu, selepas SMA, Chairil Anwar mengikut ibunya ke Jakarta. Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil Anwar. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

Setelah neneknya tiada, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Kehidupan Chairil Anwar
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.

Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya,
Advertisement
dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.

Chairil Anwar Meninggal Dunia
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda. Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”

Aku

 Aku



Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjangLuka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih periDan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

Wednesday, 30 September 2015

Kerawang Bekasi,Chairil Anwar

KRAWANG BEKASI
Karya : Chairil Anwar


Kami yang kini terbaring antara Krawang - Bekasi
Tidak bisa teriak  "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakan yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan mendegap hati
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami. Kamisudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan 4 -5 ribu nyawa
Kami cuma tulang tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang tulang berserakan atau jiwa kami melayang
untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa apa
Kami tidak tahu kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata Kamibicara  padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dindingyang berdetak
Kenang, Kenanglah  kami
Teruskan teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, Kenanglah kami
Yang tinggal tulang tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring untuk krawang bekasi


Karawang Bekasi Karya Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
- See more at: http://orb.web.id/puisi-karawang-bekasi.html#sthash.Ak6yNIIT.dpuf

Karawang Bekasi Karya Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
- See more at: http://orb.web.id/puisi-karawang-bekasi.html#sthash.Ak6yNIIT.dpuf

Karawang Bekasi Karya Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
- See more at: http://orb.web.id/puisi-karawang-bekasi.html#sthash.Ak6yNIIT.dpufsss

Karawang Bekasi Karya Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
- See more at: http://orb.web.id/puisi-karawang-bekasi.html#sthash.Ak6yNIIT.dpukjjhkhshda

Karawang Bekasi Karya Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
- See more at: http://orb.web.id/puisi-karawang-bekasi.html#sthash.Ak6yNIIT.dpuf

Curhat hehehehe

takut akan sesuatu yang belum pasti datang
takut melangkah seakan dia yakin akan kegagalan
merajutasa yang takbisa merekat
menjalin persaudaraan dengan harapan kosong
menjalani kehidupan tanpa tujuan
merasa ingin tahu tapi tiada pernah berusaha
mencoba yang sudah pasti dia kuasai
menoleh ke samping dengan harapan melaju ke depan
kehendak yang membuat bimbang
tulisan tanpa arti mewakili sebuah perasaan yang tak terarah akan tujuan rasa dalam hati,,,


maybe i like this day,so saya tak menyerah dengan arah yang mungkin menurut anda tidak jelas