Dibalik menjamurnya sinetron terbesit rasa miris dengan kelakuan anak - anak kecil yang menirukan gaya dan kebiasaan pemain sinetron. Bagaimana sikap lembaga yang menaungi penyiaran di Negeri ini? dan apakah pekerjaan mereka? jadi pertanyaan yang sebenarnya patut untuk diangkat dalam seminar nasioal. Dengan adanya lembaga seperti KPI sinetron jadi - jadian harusnya tidak mungkin tayang di jam anak - anak aktif. Karena anak sangat sensitif terhadap apa yang mereka tonton. Namun pada kenyataannya ini menjadi trending topik, wow apa yang ada difikiran orang - orang negeri ini? ini Negeri riil bukan negeri khayalan. Dalam kehidupan nyata selama saya di bangku sekolah sampai sekarang hampir lulus perguruan tinggi tidak ada sekolah yang memperbolehkan anak didiknya menggunakan rok super pendek. Apakah ini mendidik ? jawabannya woowwww kalian pasti tahu sendiri bila memang sekolah.
Meski terjadi protes dimana - mana nyatanya sinetron seperti ini tetap menjadi idaman masyarakat Indonesia, sungguh ironis di Negeri yang terkenal dengan budi pekerti dan sopan santunnya terkontaminasi dengan adanya sinetron imitasi dari negeri lain. Mungkin bisa diangkat kisah malin kundang, jaka tingkir, jaka tarup yang kental dengan perjuangan dan budi pekerti bukan percintaan.
Analisa saya berdasarkan kasus yang saya amati sendiri dari kehidupan nyata bahwa efek sinetron seperti ini akan membawa pada revolusi mental dari yang dulunya sudah tidak baik menjadi berantakan. Kartun yang dulu bisa merangsang kreatifitas dihilangkan diganti dengan sinetron yang merangsang tindakan penghasutan, permusuhan dan pengelompokan antar golongan. Bukankah ini sudah keluar dari Bhineka Tunggal Ika,anak jaman sekarang pasti banyak yang tidak faham makna tilisan yang dicengkram oleh burung garuda pada lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena pendidikan seperti ini sudah dianggap usang oleh para pemimpin negeri.
Sekian lah dari saya jumpa lagi lain waktu.


No comments:
Post a Comment